I love facebook, but i hate to face my book

i love facebook, but i hate to face my book

Mungkin istilah tersebut tepat untuk menggambarkan anak sekolahan jaman sekarang. Betapa facebook sangat menguasai hari-hari seseorang. Bangun tidur langsung update status. Habis mandi update lagi. Sambil makan juga update. Bahkan di sekolah pun sering update di saat pelajaran berlangsung. benar-benar facebook telah menjadi suatu “kehidupan” bukan sekedar “kebutuhan” lagi.

Berlawanan dengan hal tersebut, justru anak sekolahan tersebut sekarang menjadi lebih malas lagi untuk membuka, bahkan membaca buku pelajarannya. Memang sih jaman sekarang buku tidak hanya menjadi sumber utama informasi. Ada juga internet dan ebook. Dan media-media lainnya.

Seharusnya disini teknologi bisa dimanfaatkan dengan benar. Ponsel canggih tidak cuma jadi alat untuk sms dan facebook-an. Tapi bisa juga dimanfaatkan untuk membaca ebook. Untuk yang lebih canggih juga bisa digunakan lebih dari itu. Bisa install aplikasi kamus atau tabel periodik. Bahkan facebook sebenarnya juga bisa digunakan untuk saling diskusi pelajaran.

So, semua kembali kepada individunya masing-masing. Perbudaklah teknologi, jangan jadi budak teknologi!

Advertisements

Apa Kata Dunia?

Hari gini gak bayar pajak, apa kata dunia?

Itulah sekelumit kalimat yang sering kita dengar akhir-akhir ini. Yang bertujuan menyindir buat orang-orang yang sudah memenuhi syarat membayar pajak tapi gak mau membayar. Tapi bagaimana kalo ada juga kalimat yang gini?

Bayar pajak kok dipersulit, dunia kata apa?

Ya, seperti itulah kira-kira gambaran birokrasi yang dipersulit untuk membayar PAJAK KENDARAAN BERMOTOR di SAMSAT. Saat sang pemilik kendaraan sebagai wajib pajak sudah sadar akan haknya membayar, tetapi malah dalam pelaksanaan pembayarannya terkesan dipersulit. Dipersulit disini adalah mengapa membayar pajak kendaraan bermotor ini tidak dibuat seperti membayar rekening telepon atau rekening listrik. Asal ada STNK sebagai syarat, okelah. Yang penting kan kendaraan dengan nomor sekian sekian ini sudah dibayarkan pajaknya dan sudah masuk kas daerah (Pajak Kendaraan Bermotor adalah pajak daerah). Yang bikin sulit disini adalah keharusan untuk menunjukkan STNK beserta KTP asli orang yang memiliki, khususnya untuk kendaraan-kendaraan yang beli secondhand atau saat kendaraannya ada di daerah ini tapi yang empunya ada di daerah lain. Ujung-ujungnya adalah sang pembayar harus lewat “jalur belakang” karena hanya ada STNK sedangkan KTP pemilik kendaraan sesuai di STNK gak ada. So, UUD deh…ujung-ujungnya duit!

Lha kalau dah gini, siapa salah? Orang dah sadar bayar pajak tapi pembayarannya dipersulit.

Bayar pajak malah dipersulit, APA KATA DUNIA?

NB : pengalaman pribadi penulis yang setiap tahun kesulitan membayar karena motor beli second dan belum balik nama!


Deception Point The Movie?

Mungkin memang sudah terlambat kalau saya tulis ini. Mungkin juga sudah pernah ada yang menulisnya. Tapi yang saya tulis ini bener-bener murni hasil dari pikiran saya, bukan plagiat atau copy paste.

Pasti sudah banyak yang tau Dan Brown kan? Penulis kontroversial yang mengguncang dunia dengan karyanya Da Vinci Code. Dan Brown memang tergolong cukup berani menggabungkan fakta sejarah, fiksi, dan hal-hal misterius yang tak banyak diketahui khalayak. Dan yang paling sensitif adalah menyangkut pautkan agama. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas. Bukan Da Vinci Code, bukan Angels and Demons,  bukan Digital Fortress, bukan pula The Lost Symbol yang mengharuskan pembacanya punya pengetahuan tentang Freemason dan gedung-gedung bersejarah di Amerika (saya salah satu pembaca yang sulit memahami buku ini karena tak punya pengetahuan tentang Amerika).

Saat ini saya ingin membahas tentang Deception Point yang menurut saya justru paling seru dan menarik karena tak terlalu butuh latar belakang pengetahuan khusus. Deception Point bercerita tentang konspirasi tingkat tinggi dalam politik Amerika. Dengan tokoh utama Rachel Sexton yang dalam 24 jam sudah merasakan dinginnya kutub utara, ditolong oleh kapal selam rahasia AS, melihat hiu-hiu lapar di lautan Atlantik, dan bahkan menjadi saksi aktivitas vulkanik di laut dalam dengan terjebak dalam kapal selam mini. Menurut saya karya Dan Brown yang ini sangat ringan dan seperti film-film konspirasi yang telah ada macam Trilogi Bourne ataupun yang terbaru SALT yang diperankan Angelina Jolie. Dengan latar belakang White House, NASA, Delta Force yang sudah cukup akrab di masyarakat tidak seperti Franklin Square dalam The Lost Symbol ataupun Ruang Rahasia Vatikan dalam Da Vinci Code yang tak banyak diketahui umum.

Tapi bukan Dan Brown kalau tidak bisa mengemas karyanya dengan penuh misteri. Justru di balik tema yang ringan ini tersimpan banyak kejutan-kejutan yang tak terduga. Baik itu tentang siapa yang baik maupun yang jahat ataupun sejauh mana keterlibatan NASA dan Gedung Putih dalam konspirasi yang terjadi. Semua dikemas begitu mengejutkan dan mengesankan (mengesankan saya khususnya).

Tetapi satu yang mengganjal pikiran saya. Kenapa novel Dan Brown yang ini tidak difilmkan? Dengan kelebihan-kelebihan yang menurut saya sangat menjual sangat mungkin bila novel ini bisa menjadi box office jika difilmkan. Mungkinkah Deception Point ini akan difilmkan seperti Da Vinci Code dan Angels and Demons? Saya berharap “ya”.


Nostalgia

Dah lama banget aku gak buka-buka folder khusus puisi karyaku di komputer. Eh gak tau kok tiba-tiba jadi pingin buka aja pagi ini. Dan aku teringat pernah bikin puisi yang agak konyol menurutku tapi berkesan. Puisi ini kubuat waktu masih SMA Kelas 3 dulu waktu ada tugas Bahasa Indonesia. Entah ide darimana ini (waktu itu internet masih langka banget), kebetulan aku jurusan IPA yang dapat tugas Bahasa maka jadilah puisi seperti di bawah ini. Jadi pingin ketawa waktu bacanya. Sambil bayangin betapa aku begitu konyol saat masa puber dulu…hahaha.

Tentang Cinta

Cinta bukanlah kumpulan partikel

Cinta bukan atom yang berkeliaran dalam hati

Bukan pula campuran asam basa

Bukan hasil titrasi maupun hidrolisa

Bukan juga pH atau hidrokarbon

Cinta ini aksi reaksi perasaan

Yang berotasi dan bertranslasi dalam jiwa

Tapi cinta bukan momentum apalagi impuls

Bukan medan magnet di antara dua jiwa yang berarus

Bukan fluks yang menembus kalbu

Bahkan juga bukan kalor yang mendidih

Di dalam ruh seorang pencinta

Cinta tak serumit integral

Mungkin lebih mirip diferensial

Cinta bukan irisan kerucut

Juga bukan limit-limit tak hingga

Cinta, serupa grafik sinus

Tapi lebih besar dari logaritma harapan

Lebih besar dari eksponen maupun fungsi kuadrat

Dan bukan peluang

Untuk dibenci atau dikasihi

Cintaku memang tak seindah ikatan DNA

Cintaku memang tak sekuat tengkorak manusia

Tak seberagam invertebrata

Tak seunik hormon-hormon

Tapi cukup menulari laksana virus dan bakteri

Dan cukup membius walau tanpa narkotika

Ikutilah aliran darah merah

Berhentilah engkau di hati

Kau kan temukan cinta yang menyambutmu


Si Gembul

Sambil belajar posting di blog, aku posting aja tentang Si Gembul. Si Gembul, hamster mungil punya adik. Dia suka banget makan. Tapi pemalas. Makanya badannya jadi bulat, gemuk banget. Kerjaannya makan dan tidur. Kalau terpaksa baru dia olahraga di roda putarnya. Hehehe. Kalau digigit lumayan sih. Membekas di kulit. Tapi bagaimanapun dia tetap lucu.